Dolar AS Menguat ditengah-tengah konflik Russia Ukrania

Dolar AS Menguat Ditengah-tengah Konflik

Dolar AS Menguat ditengah-tengah konflik Russia Ukrania

Surabaya – Dolar AS semakin menguat walau ditengah-tengah konflik yang sedang terjadi antara Russia dan Ukrania. Konlfik ini dimulai dari Presiden Russia, Vladimir Putin yang mengumumkan akan menginvasi Ukrania dengan mengirim sejumlah pasukannya ke perbatasan Ukrania. Hingga saat ini, konlik ini dikabarkan masih belum mereda. Bahkan sempat dilaporkan terjadi beberapa serangan ledakan yang terjadi.

Sempat dikabarkan mengalami penurunan, kini Dolar AS kembali menguat setelah konflik ini semakin memanas. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama dunia naik sebesar 0,09 persen menjadi 96,7010.

Dilansir dari id.investing.com – Pasangan USD/JPY naik tipis 0,14% di 115,16. Rupiah bergerak naik 0,12% ke 14.347,5 per USD hingga pukul 10.45 WIB. Pasangan AUD/USD turun tipis 0,18% ke 0,7249, dengan dolar Australia yang sensitif terhadap risiko diperdagangkan berada di dekat level tertinggi hampir satu minggu. Reserve Bank of Australia akan memberikan keputusan kebijakannya kemudian. Pasangan NZD/USD turun tipis 0,12% menjadi 0,6751.

Baca Ketegangan Russia-Ukrania Sebabkan Bursa Hong Kong Turun Hingga 3.2%.

Pasangan USD/CNY naik tipis 0,03% menjadi 6,3115. Data China yang dirilis sebelumnya menunjukkan indeks manajer pembelian manufaktur (PMI) Februari tercatat sebesar 50,2, sedangkan PMI non manufaktur sebesar 51,6 dan PMI manufaktur Caixin tercatat 50,4. Sedangkan pasangan GBP/USD sedikit turun 0,09% ke 1,3407 pukul 10.42 WIB.

Pasar mata uang dunia berangsur-angsur membaik setelah pejabat Russia dan Ukrania setuju untuk melakukan putaran pertama untuk melakukan gencatan senjata. Rubel (mata uang Federasi Russia) juga dikabarkan mengalami penurunan hingga 30% di awal minggu. Namun, tekanan pada Rusia tetap ada dari sanksi Barat dan sekutu juga mengeluarkan beberapa bank Rusia dari jaringan SWIFT global.

Central Bank of the Russian Federation (Bank of Russia) menerapkan kenaikan suku bunga darurat sebesar 20% dan langkah-langkah lainnya. Rubel terakhir diperdagangkan di 102. Volatilitas mata uang berada pada level tertinggi 14 bulan pada hari Senin, menurut indeks Deutsche Bank.

“Berita dari Ukraina tetap suram, karena perundingan Rusia-Ukraina tidak menghasilkan resolusi. Pertempuran berkecamuk saat Barat berupaya meningkatkan upaya untuk mengisolasi Rusia,” Ahli Strategi Valuta Asing Senior National Australia Bank Ltd. Rodrigo Catril mengatakan dalam catatan.

Ketidakstabilan akan menjaga tawaran mata uang safe haven dan euro di bawah tekanan, sementara dolar Australia sejauh ini bertahan karena harga komoditas yang lebih tinggi dan juga jarak geografis Australia dari konflik, catatan itu menambahkan.

Imbal hasil benchmark 10 tahun AS mundur ke level terendah hampir satu bulan sebelumnya, yang membebani dolar. Investor mencari keamanan di Treasuries, bahkan ketika Federal Reserve AS siap untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakannya Maret 2022.

Krisis di Ukraina juga telah mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi untuk kenaikan suku bunga Fed 50 basis poin menjadi hanya 8,5%, menurut alat Fedwatch CME. Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic pada hari Senin mengatakan bahwa ia tidak mengesampingkan langkah setengah poin persentase.

“Intinya adalah, jangan hapus kenaikan 50bps,” kata ahli strategi Commonwealth Bank Of Australia Joseph Capurso dalam catatannya sendiri, mengingatkan bahwa harga pasar sudah terlalu rendah.

“Tren jangka pendek dalam USD akan didominasi oleh perang, tetapi tren jangka menengah USD akan ditentukan oleh data ekonomi,” bunyi catatan tersebut.

Sumber : https://id.investing.com/news/forex-news/dolar-as-naik-rubel-stabil-tapi-fokus-masih-konflik-ukraina-2157703

Posted in Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published.